MATASEMARANG.COM – Pukul 07.30 pagi, Yemima Immanuella sudah berbaris rapi di barisan para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kota Semarang untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Mengenakan kaos merah lengan panjang, Yemima nampak semringah berada di tengah teman-teman barunya di jenjang Sekolah Dasar (SD) di SRT 1 yang terletak di Rowosari, Kecamatan Tembalang pada Selasa, 14 Juli 2026.
Yemima mengaku sangat senang bisa masuk ke sekolah rakyat meskipun saat ini dirinya duduk di kelas 5 SD.
“Senang banget bisa masuk ke sekolah rakyat. Punya teman baru di sini,” ungkap Yemima.
Yemima sebelumnya bersekolah di SD Terang Bangsa dengan mendapat subsidi pembiayaan uang SPP dari gereja karena berasal dari keluarga tidak mampu.
Namun saat Yemima naik ke kelas 5, subsidi tersebut ternyata sudah tidak ada lagi dan orang tua Yemima harus membayar secara mandiri sebesar Rp 600 ribu per bulan dan uang kenaikan kelas sebesar Rp1.500.000.

Yemima mengaku saat bersekolah di Terang Bangsa ia juga ikut membantu ibunya berjualan nasi kuning yang ia bawa ke sekolah demi membantu orang tuanya.
“Waktu di sekolah lama, aku bantu Ibu jualan nasi kuning, aku bawa ke sekolah dan banyak yang beli. Itu buat bantu-bantu ibu,” kata dia.
Yemima mengaku senang berada di Sekolah Rakyat karena melihat fasilitas yang ada di sekolah tersebut.
“Sekolahnya bagus (sekolah rakyat) ada asramanya juga,” ujarnya.
Anik Kembar Triyosari, ibu dari Yemima mengaku bersyukur anaknya bisa pindah dan diterima di SRT. Pasalnya, ia mengaku sudah tidak sanggup membiayai sekolah Yemima jika harus tetap bersekolah di Terang Bangsa.
“Saya sehari-hari cuma jualan nasi kuning, saya ditinggal suami saya, saya ga sanggup membiayai sekolah kalau tetap di sana, untungnya di bantu Pak Adi (PKH) untuk bisa masuk sekolah rakyat,” ungkap Anik saat mengantar Yemima ke SRT.
Anik mengatakan saat masih mendapatkan subsidi dari gereja, ia hanya membayar uang SPP sebesar Rp250 ribu, namun saat subsidi sudah dicabut ia mengaku keberatan harus membayar Rp600 ribu per bulan.
“Daripada anak saya putus sekolah maka saya bilang ke pendamping PKH untuk kelanjutan anak saya. Akhirnya bisa masuk SRT,” tuturnya.
Anik mengaku sebelumnya ingin memindahkan Yemima ke SD negeri di dekat tempat tinggalnya di Puspanjolo, Sekarang Barat, namun justru Yemima sendiri yang meminta untuk bersekolah di SRT.
“Anaknya itu tiap kali ada penyuluhan PKH soal SR kan ikut lalu dia melihat dan tertarik, makanya minta di SR saja karena melihat fasilitas dan untuk ke depannya bagus masa depannya,” bebernya.
Anik mengaku tidak mempermasalahkan ketika Yemima harus tinggal di asrama karena anak ketiganya ini sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
“Asrama tidak masalah karena dia sudah mandiri sejak kecil bantu saya jualan nasi kuning. Kalau sekolah berangkat sendiri naik ojek karena saya subuh sudah berangkat jualan,” tuturnya.
Ia mengaku ikhlas melepaskan anak ketiganya bersekolah di sekolah rakyat demi kebaikan dan masa depan Yemima.
“Saya rela karena buat kebaikan anaknya karena saya ikhlas, sebisa mungkin tidak nangis karena kasihan sama anaknya. Yang penting dia betah dulu karena dari kecil sudah mandiri, saya tinggal jualan subuh, dia sekolah siap-siap sendiri berangkat sendiri naik ojek,” katanya.
Sebelum melepas anaknya bersekolah, Anik memberikan pesan kepada Yemima untuk tidak lupa beribadah dan menjaga nama baik keluarga.
“Bekalnya cuma jangan lupa ibadah jaga etika nama baik orang tua nama baik keluarga kira orang tidak punya kalau bukan milik kita jangan diambil,” jelas Anik yang masuk dalam desil 2 ini.
Anik bersyukur pemerintah membangun sekolah rakyat, karena baginya, dengan adanya sekolah rakyat sangat membantu masyarakat tidak mampu agar tetap bisa mendapat pendidikan yang layak.
“Sangat membantu sekali dengan ada sekolah rakyat apalagi kondisi ekonomi saat ini,” pungkasnya.


















