MATASEMARANG.COM – Cara pandang guru terhadap peserta didik menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan akademik mereka.
Menurut pakar pendidikan dwibahasa dari Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, Prof James Cohen, hal itu terutama di tengah keberagaman budaya, bahasa, dan latar belakang sosial di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikannya dalam lokakarya bertajuk Bridging the Gap: Cultivating Intercultural Leadership di SMA Soteria Mahardika, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, yang juga menghadirkan pakar kepemimpinan pendidikan dari NIU Prof Teresa A Wasonga sebagai pembicara.
Prof James Cohen mengatakan pengalaman mengajar calon guru di Amerika Serikat, khususnya dalam pendidikan dwibahasa dan pendampingan bagi komunitas imigran, menunjukkan bahwa tantangan terbesar pendidikan bukan hanya berkaitan dengan strategi pembelajaran, tetapi juga cara guru memandang peserta didik.
“Saya mengajarkan kepada para guru bagaimana bekerja dengan siswa yang berasal dari bahasa, budaya, dan latar belakang yang sangat berbeda. Yang terpenting bukan hanya strategi mengajar, tetapi juga bagaimana guru memandang siswanya,” katanya.
Menurut dia, Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 700 bahasa merupakan contoh nyata masyarakat multikultural sehingga guru perlu memiliki kemampuan membangun interaksi yang inklusif dengan peserta didik dari berbagai latar belakang.
Ia mengingatkan guru agar meninggalkan pola pikir deficit model yang melihat siswa dari sisi kekurangan, misalnya karena menggunakan bahasa berbeda atau berasal dari keluarga kurang mampu.


















