Sebaliknya, guru perlu menerapkan perspektif strengths atau asset model yang meyakini setiap peserta didik memiliki potensi untuk berkembang.
“Perbedaan paradigma antara melihat siswa dari sisi kekurangan dan melihat kekuatan yang dimiliki mereka sangat besar. Cara pandang itu bisa menentukan berhasil atau tidaknya perjalanan akademik seorang siswa,” kata James.
Sementara itu, Prof Teresa A Wasonga mengaku berdiskusi dengan para siswa mengenai pentingnya membangun karakter yang baik serta berbagi pandangan dengan para kepala sekolah tentang kepemimpinan sekolah dalam lingkungan yang multikultural.
“Saya berbicara dengan para siswa tentang karakter, bagaimana mengembangkan karakter yang baik dan mengapa karakter yang baik itu penting. Saya juga berdiskusi dengan para kepala sekolah mengenai bagaimana memimpin sekolah serta bekerja dengan para siswa dalam lingkungan lintas budaya,” katanya.
Salah seorang peserta, Aris Budiasono mengatakan lokakarya tersebut membuka wawasan peserta mengenai pentingnya memahami perbedaan budaya dalam proses pembelajaran.
Ia mencontohkan perbedaan etika berkomunikasi antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat, kata dia, menatap mata lawan bicara dianggap sebagai bentuk perhatian, sedangkan dalam budaya tertentu di Indonesia hal itu dapat dipandang kurang sopan jika dilakukan kepada orang yang lebih tua.
“Hal-hal seperti ini penting dipahami guru agar mampu membangun komunikasi yang tepat dalam lingkungan yang beragam,” kata dia yang juga Kepala SMP Negeri 1 Patikraja, Banyumas


















