Sebelum memutuskan masuk ke Sekolah Rakyat, Nurul ternyata sempat bersekolah di SMA Negeri 5 Semarang. Namun, ia terpaksa putus sekolah selama kurang lebih dua bulan akibat menjadi korban perundungan (bullying). “Waktu itu putus sekolah karena bully,” ungkapnya.
Di tengah masa sulit tersebut, Nurul mendapatkan tawaran untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat. Dibandingkan harus menganggur di rumah, ia akhirnya menerima tawaran tersebut. Keputusan Nurul ini pun mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
Kini, Nurul mengaku sangat nyaman menjalani hari-harinya di Sekolah Rakyat. Bahkan Nurul Nampak ceria dan bersemangat menjalani berbagai kegiatan di Sekolah Rakyat.
“Nyaman, nyaman banget,” pungkasnya.


















