“Dengan era digital yang sekarang, takutnya kecanduan HP soalnya kan kita pelajari sikap sehari-hari. HP terus, dibilangin kan juga bisa sebenarnya, cuman kan kedisiplinan masih kurang,” katanya.
Dengan tinggal di asrama, ia berharap Damar bisa lebih terlepas dari ketergantungan HP, serta belajar hidup lebih disiplin dan mandiri. Meskipun menyadari akan sangat merindukan putra sulungnya karena adanya aturan waktu kunjungan, tapi mereka tetap memantapkan hati.
Sebagai bekal sebelum masuk asrama, ia bersama suami senantiasa memberikan nasihat penting kepada Damar.
“Kita selalu bilang kalau harus jujur, disiplin, taati aturan, dan sayangi orang yang dewasa,” ujar Nur Harisatun seraya menghapus air matanya.
Sehari-hari, suami Nur Harisatun, Naryo bekerja sebagai pekerja proyek dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara Nur Harisatun bekerja di salon. Pasangan ini memiliki dua orang putra, di mana adik dari Damar baru saja masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD).
Melalui pendidikan di Sekolah Rakyat ini, ia berharap besar agar Damar dapat tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan sukses di masa depannya.


















