AI Melulu, Bisa Jemu

Etika

Hanya saja, ada aturan-aturan etika yang harus dijaga oleh pengguna AI, di samping yang paling penting adalah nilai-nilai jurnalistik yang harus berdiri pada fakta, verifikasi, justifikasi, dan “sambungannya” terhadap sumber.

Sekali lagi, tulisan AI memiliki pola bahasa yang mudah dikenali. Jika ada seseorang yang membuat konten di media sosial, atau bahkan menulis sebuah artikel atau opini di media massa, namun pola bahasa AI-nya sangat kental terasa, pembuat konten itu bukan menulis tapi hanya mendistribusikan informasi.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pertumbuhan yang Mengejutkan, Gen Z, dan One Piece

Ironisnya lagi, apabila karya AI yang diatasnamakan penulis manusia itu mendapat suatu penghargaan, atau ramai dibicarakan. Duh, apakah kita sedang memberikan penghargaan pada orang yang tepat?

AI tidak terlarang. Tapi \bedakan AI sebagai alat bantu, dengan AI sebagai pengganti berpikir.

Contoh lain, dari kemalasan berpikir dalam penggunaan AI adalah ketika seseorang konten kreator, termasuk jurnalis, menyerahkan dan percaya sepenuhnya kepada AI yang gemar berhalusinasi bila tidak diberikan pelajaran yang tepat.

BACA JUGA  Retorika Diskon Pajak Kendaraan Bermotor, Plester Kecil untuk Luka yang Lebar

Misal, alat AI yang paling banyak digunakan oleh wartawan sekarang ini barangkali transkripsi otomatis dari sebuah rekaman narasumber. AI transkripsi bekerja dengan cara probabilitas. Ketika ada audio yang tidak jelas dari ucapan narasumber, AI tidak diam, tapi mengisi ketidakjelasan informasi itu dengan probablitas yang paling mungkin secara statistik.

Di beberapa AI transkripsi, ada yang menuliskan ketidakjelasan audio narasumber itu dengan kata “asmbdrdul”, misalnya, dari kata asli “amburadul”. Tapi ada AI lain yang bekerja dengan cara berpikir sendiri dan berinisiatif menuliskan kata lain, yang berasal dari karangannya sendiri. Ketika semua informasi dari AI ini ditelan tanpa dikuliti oleh wartawan, di situlah rantai verifikasi yang menjadi senjata jurnalis terputus.

Pos terkait