Hasilnya bisa fatal. Yaitu halusinasi AI masuk ke naskah berita, dipublikasi, dan jadi krisis institusional.
Oleh karena itu, mengapa Apni Jaya menilai penting bahwa sebuah media massa harus memiliki aturan masing-masing terhadap penggunaan AI di internal lembaga jurnalistiknya. Selain itu, publikasi bahwa sebuah media massa mengolah informasi dengan menggunakan AI juga menjadi transparansi untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Memang, AI bisa meniru sebuah karya. Sebagaimana di awal tren AI yang bisa mengubah foto keluarga menjadi bergaya animasi Studio Ghibli yang menenangkan. Ya, Studio Ghibli yang banyak film animasinya meraih penghargaan Oscar. Yang Spirited Away-nya adalah sebuah puisi bergambar.
Seperti AI bisa meniru sebuah gambar, AI juga bisa meniru gaya penulisan tertentu. Tapi, setidaknya untuk saat ini, AI tidak memiliki emosi, pengalaman hidup, rasa takut, bosan dan hal lain yang membentuk bagaimana seorang manusia itu ada secara utuh.
Hayao Miyazaki, sang maestro dari karya-karya film Studio Ghibli, mengkritik keras penggunaan AI dalam sebuah karya seni. Bukan hanya karena jutaan orang ramai-ramai menjiplak gaya animasi Studio Ghibli, lebih dari itu, Miyazaki menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kehidupan.
Menurut dia, AI menghilangkan esensi ketidaksempurnaan dan kelemahan manusia. Tidak jarang, sebuah adikarya justru terlahir dari titik terendah ketidakmampuan seseorang, kekosongan mengharap sesuatu, dan murni dari tumpahan bagian paling dalam hati yang meluap. Ketika sebuah karya bercampur rasa, di situlah “dia” memiliki nyawa.


















