Relasi Hangat dan Stabil Jadi Kunci Kebahagiaan

Kebahagiaan
Ilustrasi. Freepik

Upaya membangun pikiran yang realistis dan lentur, kebiasaan hidup yang sehat, dukungan lingkungan sosial, serta tujuan hidup yang manusiawi menjadi fondasi penting yang memperkuat daya lenting seseorang dalam menghadapi tantangan.

Nilai-nilai inilah yang sering kali membantu menurunkan risiko gangguan mental di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat.

Dalam dinamika modern, muncul pergeseran besar dalam cara banyak individu memaknai kebahagiaan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Acil Bimbo Berpulang

Pengejaran kesenangan sesaat kerap menjadi pusat orientasi hidup termasuk kenyamanan instan, validasi, pujian, keberhasilan cepat, dan stimulasi tanpa henti menjadi hal yang dianggap wajar.

Media sosial memperkuat dorongan ego untuk tampil sempurna, terlihat berhasil, dan dianggap penting. Namun, bertolak belakang dengan apa yang dicari, semakin keras kesenangan diburu, semakin jauh seseorang dari kedamaian batin.

Kesenangan dan Kebahagiaan

Kesenangan hanya memicu dopamin sesaat dan tidak pernah bertahan lama. Ketika kesenangan disalahartikan sebagai kebahagiaan, muncul lingkaran tak berujung: rangsangan baru terus dikejar, tetapi rasa cukup tak pernah benar-benar hadir.

BACA JUGA  Inspirasi Desain Kamar Mandi Nyaman, Bikin Makin Betah di Rumah

Konsep Best Feeling Achievement atau BFA membantu membedakan kesenangan  (pleasure) dari kebahagiaan (happiness  atau meaning).

Kesenangan bersifat cepat dan dangkal, sedangkan kebahagiaan lahir dari makna hidup, tujuan yang kuat, relasi berkualitas, kedalaman spiritual, dan keselarasan dengan nilai diri.

Tidak heran banyak individu yang tampak berhasil justru merasakan kehampaan, karena hidup mereka penuh pencapaian namun miskin makna.

Pos terkait