Saatnya Kopi Muria Naik Kelas

Kopi muria
Produk kopi khas lereng Pegunungan Muria Kudus, Jawa Tengah, yang sudah dikemas dan siap dijual. ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif.

Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara mengatakan BLDF juga melengkapi dengan memberikan pelatihan pengolahan kopi pascapanen, praktik manual brew, serta sesi pendekatan kreatif dalam pemasaran kopi melalui media sosial.

“Kopi sudah jalan bertahun-tahun tapi ada kekurangannya yakni bagaimana memasarkannya pakai media sosial. Lalu bagaimana punya ilmu baru, roasting, brew. Petani kopi perlu tahu hasil akhirnya seperti apa. Kami coba masuk ke situ,” kata Mutiara.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk mendukung visi para petani kopi Muria dalam memperkenalkan kopi Muria kepada masyarakat yang lebih luas sehingga upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Langkah Cerdik Pemkot Semarang Jinakkan Penunggak “Kakap” PBB

Kopi Muria diyakini punya tempat di pasaran lokal. Pakar bidang kopi yang dikenal sebagai bapak magis Indonesia, Farchan Noor Rachman, mengatakan kopi-kopi di pasar Indonesia mayoritas merupakan jenis robusta terutama untuk industri seperti kopi-kopi yang saat ini menjamur di berbagai daerah.

Ini karena robusta memberikan rasa yang lebih konsisten, berbeda dengan arabika yang cenderung berubah-ubah. Merek yang menginginkan kesesuaian dan kestabilan rasa akan memilih robusta ketimbang arabika.

Tapi, ketimbang hanya menjual dalam bentuk buah semata, petani di Muria khususnya Japan didorong menjangkau pasar lebih luas dengan memperkuat merek atau produk mereka di media sosial.

BACA JUGA  Misi Kemanusiaan Tim Medis FK Undip di Sumatra Barat Pascabanjir dan Longsor 2025

Ketimbang mengandalkan foto hasil panen, di era saat ini, petani atau penjual disarankan memberikan mencoba menghadirkan cerita. Misalnya seperti apa penanaman kopi, cara merawat kopi, hingga pengemasan kopi untuk konsumen.

Pos terkait