Karena di era sekarang orang lebih senang mendengarkan cerita daripada hanya visual saja.
Petani bisa menceritakan perbedaan kopi produksinya dengan kopi lainnya. Contoh sederhana, menjual robusta dari ketinggian berapa meter di atas permukaan laut, atau kopi tumbuh di bawah pohon nangka. Sekecil apapun perbedaan bisa menjadi karakteristik pembeda dari sisi pembeli.
Melakukan pendekatan ke komunitas-komunitas kopi, misalnya, sembari mengirimkan sampel, sering bertemu dengan para pegiat kopi, sering mengikuti pameran, dan mengikuti kompetisi sehingga masyarakat bisa tahu kemajuan kopi yang dikelolanya juga bisa menjadi upaya yang bisa dilakukan. Hasilnya, nilai jual kopi bisa lebih tinggi.
Selain itu, memahami kebutuhan calon pembeli juga menjadi kunci. Saat akan menjual kopi pada seorang pengelola kafe misalnya, penjual atau petani harus paham dulu profil kafe yang dituju, misalnya memilih biji kopi jenis robusta atau tidak dan kebutuhan robusta sebanyak apa.
Hal lain yang juga penting yakni pengalaman usaha di bidang kopi. Petani atau penjual dengan pengalaman bertanam kopi yang panjang, biasanya akan lebih dipercaya.
Kopi Muria khususnya di Desa Japan dari sisi karakteristik rasa yang lebih mais dibandingkan wilayah lainnya di Jawa Tengah tampaknya punya peluang memikat hati pecinta kopi di luaran sana. Konsistensi menjaga konsistensi rasa, ditambah promosi yang mumpuni mengandalkan teknologi dan kiat dari pakar bisa menjadi bekal bagi petani setempat untuk bisa merengkuh sukses.





















