MATASEMARANG.COM – Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Krisseptiana menjelaskan bahwa masalah stunting masih menjadi tantangan serius di wilayah Semarang Utara.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan reses yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Semarang Utara, dihadiri Camat, Ketua TP PKK, serta 100 pengurus TP PKK se-kecamatan pada 11 Februari 2026 lalu.
Dalam paparannya, Krisseptiana menjelaskan bahwa stunting tidak hanya dialami anak dari keluarga kurang mampu.
“Ada kasus anak stunting dari keluarga mampu, namun pendampingan sulit dilakukan karena orang tuanya merasa gengsi. Ini menjadi tantangan bagi kader dalam strategi komunikasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak kasus stunting muncul dari pasangan yang menikah di usia anak. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
Program MBG diharapkan menjadi solusi, meski belum semua pihak menerima dengan baik.
“Peran kader PKK sangat strategis, mereka adalah garda terdepan yang bisa menjangkau langsung masyarakat,” tegasnya.
Selain isu stunting, warga juga menyampaikan sejumlah aspirasi. Mereka berharap agar distribusi program MBG bisa lebih merata, terutama bagi ibu hamil dan menyusui.
Aspirasi lain yang muncul adalah bantuan modal untuk UMKM, dukungan bagi Posyandu, serta program pencegahan tawuran dan perkawinan anak di wilayah Semarang Utara.
Krisseptiana menegaskan bahwa semua masukan akan diperjuangkan melalui pokok pikiran DPRD.
“Kami hadir untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Aspirasi ini akan menjadi bahan penting dalam perumusan kebijakan,” tutupnya.


















