MATASEMARANG.COM – Superflu merupakan self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang baik.
“Kalau kita dalam kondisi prima daya tahan tubuhnya, insya Allah sebetulnya bisa sembuh sendiri,” ujar Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta Lana Unwanah di Yogyakarta, Jumat.
Lana menuturkan, superflu memiliki gejala yang cenderung lebih berat ketimbang flu biasa, seperti sakit kepala yang lebih terasa, serta batuk dengan durasi sakit yang lebih panjang.
Menurut dia, batuk akibat superflu bisa bertahan hingga 8–10 hari.
Menurutnya, perbedaan utama super flu dengan COVID-19 terletak pada jenis virus dan lokasi infeksi.
Superflu disebabkan oleh virus influenza A tipe H3N2, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.
Dari sisi penyerangan infeksi, influenza umumnya hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas dan jarang menyebabkan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) atau gangguan pernapasan berat.
“Kalau influenza atau superflu ini tidak sampai menyerang saluran pernapasan bagian bawah. Jadi tidak sampai menyebabkan kondisi seperti ARDS yang membutuhkan alat bantu napas,” ujar dia.
Komorbida
Menurut dia, kelompok yang rentan tertular superflu antara lain anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit penyerta.
“Yang rentan itu kurang lebih sama, anak-anak, ibu hamil, lansia, kemudian orang-orang dengan komorbida, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, kanker, atau gangguan sistem kekebalan tubuh,” ujar Lana Unwanah.


















