Diabetes pada Anak, Orang Tua Diminta Kontrol Konsumsi Gula

ilustrasi makanan manis (pixabay/ la-fontaine)
ilustrasi makanan manis (pixabay/ la-fontaine)

MATASEMARANG.COM – Konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan pada anak dan remaja kini menjadi perhatian serius tenaga medis di Kabupaten Batang.

Dokter spesialis anak RSUD Batang Tan Evi Susanti menekankan pentingnya penerapan pola gizi seimbang untuk mencegah penyakit metabolik sejak usia muda.

Menurutnya, anak-anak tetap boleh mengonsumsi makanan atau minuman manis, tetapi jumlahnya harus diperhitungkan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Rute Semarang 10K Dianggap Ideal, Kuota Peserta Bertambah Jadi 3.000

“Boleh minum teh manis, tapi harus dihitung. Kalau sudah minum teh manis, jangan ditambah lagi permen atau makanan manis lain. Jangan bertumpuk-tumpuk,” ujarnya, Rabu 11 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam konsep gizi seimbang, asupan gula, garam, lemak, hingga protein memiliki takaran harian yang perlu diperhatikan.

Banyak orang tua maupun anak belum menyadari bahwa kandungan gula dan lemak kerap tersembunyi dalam berbagai jajanan.

RSUD Batang bahkan menemukan kasus diabetes tipe 2 pada anak, yang umumnya dipicu obesitas.

BACA JUGA  Immoderma Wellness Day, Wujud Kepedulian terhadap Kesehatan Holistik

“Setelah berat badan turun, kadar gula darahnya membaik. Namun ada juga pasien diabetes bawaan yang membutuhkan pengawasan ketat serta terapi insulin rutin,” jelasnya.

Kasus diabetes pada anak di Batang ditemukan sejak usia 10 tahun hingga remaja 14 tahun, sementara kasus terkait obesitas muncul pada usia sekitar 17 tahun.

“Ada empat kasus usia 10 sampai 14 tahun. Yang karena obes kemudian menjadi kencing manis juga ada,” ungkap Tan Evi.

Ia berharap edukasi mengenai gizi seimbang terus digencarkan, baik kepada orang tua maupun anak, agar kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula dapat dikendalikan sejak dini.

Pos terkait