MATASEMARANG.COM – Pergi ke dokter atau fasilitas kesehatan bukan pilihan pertama bagi mayoritas anak muda ketika mengalami keluhan kesehatan.
Alih-alih ke dokter atau rumah sakit, sebagian besar dari mereka memilih mengandalkan informasi dari internet terutama kecerdasan buatan (AI) untuk mendiagnosis keluhannya.
Itulah hasil penelitian terbaru soal tindakan pertama anak muda ketika dirinya sakit atau sedang tidak enak badan.
Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan. Mereka tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Swadiagnosis saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi “dokter pertama” bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan, kata Ketua Peneliti dan Pendiri HCC dr. Ray Wagiu Basrowi.
Ray di Jakarta, Rabu (13/5), mengatakan bahwa fenomena swadiagnosis atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius. Menurut HCC, hal ini menggambarkan adanya kelelahan sistemik (system fatigue) di masyarakat urban modern.
“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” ujar dia.


















