MATASEMARANG.COM – Di tengah hiruk-pikuk industri mode yang kerap berkiblat pada Jakarta atau Bandung, sebuah nama tetap kokoh berdiri dari sudut Kota Semarang, yaitu Ina Priyono.
Sosok di balik nama profesional Ratih Dinawati, S.E., M.M. ini bukan sekadar perancang busana biasa, melainkan adalah diplomat wastra yang membawa identitas Jawa Tengah ke radar mode internasional.
Sejak lahir di Semarang pada 20 Desember 1961, Ina telah memilih jalan untuk mendedikasikan hidupnya pada pengembangan busana muslim (modest wear) dan kain tradisional.
Keputusannya untuk tetap tinggal di Semarang meski namanya sudah mendunia adalah bukti cinta pada tanah kelahiran.
Baginya, Semarang bukan sekadar domisili, melainkan basis perjuangan untuk membukakan jalan bagi IKM dan UMKM lokal agar naik kelas.
Menariknya, Ina Priyono belajar desain secara otodidak pada sekitar 1997 silam. Namun kini potongan A-line, penggunaan sentuhan list, serta saku yang dia terapkan menjadi ciri khas yang membuatnya dikenal banyak kalangan.
Intelektualitas di Balik Kreativitas

Ina membuktikan bahwa dunia mode membutuhkan lebih dari sekadar sketsa. Dengan gelar Magister Manajemen, ia mengelola kreativitasnya dengan logika organisasi yang mumpuni.
Hal ini terlihat dari peran krusialnya di berbagai lembaga strategis:
- National Vice Chair Organization Indonesian Fashion Chamber (IFC).
- Ketua PPUMI (Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia) Kota Semarang.
- Ketua Bidang II PKK Provinsi Jawa Tengah.
- Pokja Fashion Kadin Jawa Tengah & Dekranasda Kota Semarang.
Imperium Lini Busana: Dari Gaun Pengantin hingga Gaya Remaja
Kecerdasan Ina dalam membidik pasar tecermin dari diversifikasi label di bawah naungan brand-nya. Ia memahami bahwa setiap wanita memiliki kebutuhan yang berbeda:
- IP: Mahakarya busana pengantin muslim (wedding gown).
- Ina Priyono Premium & Regular: Koleksi deluxe hingga busana siap pakai (ready to wear).
- Ina Priyono Basic: Menjawab kebutuhan gaya esensial harian yang praktis namun tetap elegan.
- Latisha: Sentuhan segar untuk segmen remaja muslim.
- Kolaborasi & Event: Lewat INALI Co. (bersama Lisa Fitria), F+ Studio (bersama Umu Hanifah), hingga Chantika Project sebagai motor penggerak acara.
Menembus Batas: London, Ljubljana, dan Seterusnya
Jejak langkah Ina Priyono telah melampaui batas negara. Konsistensinya membawa wastra lokal telah membuahkan pengakuan internasional:
- 2012: Memukau panggung mode di Kamboja.
- 2016: Membawa kehangatan budaya Indonesia ke Potters Field Park, London melalui ajang Indonesia Weekend.
- 2018: Melakukan “Diplomasi Fashion” di Ljubljana, Slovenia.
Di dalam negeri, wajahnya hampir tak pernah absen dari gelaran Indonesia Fashion Week, MUFFEST, hingga ISEF. Ia juga merupakan motor penggerak utama Semarang Fashion Trend (2022-2023) yang kini menjadi salah satu barometer mode di Jawa Tengah.
Lebih dari Sekadar Desainer

Melalui tangan dinginnya, Ina Priyono terus membuktikan bahwa desainer daerah memiliki daya tawar yang sejajar di level global.
Baginya, sukses bukan hanya soal seberapa banyak koleksi yang terjual, melainkan seberapa besar manfaat yang ia berikan bagi UMKM perempuan di sekelilingnya.
Ina Priyono adalah bukti nyata bahwa akar budaya lokal, jika dikelola dengan manajemen yang tepat adalah identitas yang tak ternilai harganya di mata dunia.


















