Penelitian itu dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Pihaknya menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti situs kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.
Fenomena itu sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.
Yang menjadi perhatian, katanya, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.
Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57 persen hasil swadiagnosis ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter. Menurut dr. Ray, temuan itu menjelaskan mengapa perilaku swadiagnosis semakin menguat.
“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dianggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis,” katanya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding kelompok lainnya.
















