MATASEMARANG.COM – Mekanisme penilaian dan penjurian dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS3N) tingkat Kecamatan yang digelar di Kota Semarang mendapat kritik tajam dari praktisi tari Kota Semarang Rimasari Pramesti Putri.
Rima melihat proses penjaringan peserta di level awal ini justru menjadi titik lemah yang bisa berdampak pada kualitas prestasi di tingkat yang lebih tinggi. Minimnya literasi tari dan keterlibatan praktisi seni tari dalam proses penjurian menjadi persoalan utamanya.
“Kalau di tingkat kecamatan, penilai justru bukan dari kalangan yang memahami tari secara mendalam. Karena keterbatasan anggaran, akhirnya guru-guru ditunjuk menjadi juri, padahal belum tentu memiliki kompetensi di bidang tersebut,” kata Rima, Jumat, 8 Mei 2026.
Ia menilai dengan kondisi seperti ini maka penilaian peserta dinilai kurang maksimal, terlalu objektif dan tidak sesuai dengan kaidah seni tari.
“Peserta sudah berusaha keras, tetapi ketika jurinya tidak memahami sudut pandang tari, ini menjadi persoalan serius. Minimal harus ada satu juri yang benar-benar ahli di bidang tari. Kalau tidak, ini berbahaya bagi pembinaan seni ke depan,” tegasnya.
FLS3N ini berada di bawah naungan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), sehingga seharusnya memiliki sistem pembinaan dan pendanaan yang jelas.
Ia menyarankan agar seleksi di tingkat kecamatan lebih baik dihapuskan saja jika tidak didukung anggaran dan sumber daya yang mumpuni.
Kemudian, ia mengusulkan untuk menggunakan sistem seleksi berbasis video yang langsung dinilai di tingkat kota. Cara ini dianggap lebih adil dan menjaga kualitas seleksi.

















