MATASEMARANG.COM – Tepat tengah hari yang terik di dermaga kawasan bahari Tambaklorok Kelurahan Tanjungmas Kecamatan Semarang Utara, Dul Muntolib menyandarkan perahunya ke pinggir.
Usai menjatuhkan jangkar, ia mengikatkan tali dari perahunya ke tepi dermaga agar tidak terseret gelombang.
Dengan bermandikan keringat, Muntolib kemudian menurunkan satu per satu ember yang berisi hasil tangkapan hari ini. Ada satu ember besar berisi penuh dengan cumi-cumi, dan dua ember lain berisi ikan belo.
Setelah menurunkan hasil tangkapan, ia kembali masuk ke perahunya untuk mengisi jeriken penyimpanan solar yang ada di perahu miliknya yang baru ia beli dari SPBU sebelum melaut.
Pria asal Demak ini sudah lebih 20 tahun berprofesi sebagai nelayan dan tinggal di kawasan Tambaklorok Semarang. Sejak kecil ia sudah diajarkan menjadi nelayan oleh sang kakak yang mengajaknya merantau ke Ibu Kota Jawa Tengah.
“Sudah lebih 20 tahun jadi nelayan, tinggal di sini (Tambaklorok) dari lulus SD sama kakak,” ucapnya saat ditemui matasemarang.com di tepi dermaga, Selasa, 12 Mei 2026.
Warga RT 4 RW 15 Tambaklorok ini mengaku, profesi nelayan adalah pekerjaan utamanya. Bahkan ia tak bisa berkata apa-apa ketika seandainya harga solar subsidi atau biosolar ikut mengalami kenaikan seperti halnya harga solar nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
Diketahui saat ini harga biosolar atau solar subsidi masih diangka Rp6.800 per liter. Sementara solar nonsubsidi sepeti Dexlite mengalami kenaikan hingga Rp26 ribu per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter mulai 4 Mei 2026.


















