
Rasa was-was jika harga biosolar juga ikut mengalami kenaikan turut dirasakan Muntolib. Bahkan jika memang biosolar ikut mengalami kenaikan, ia tak tahu apakah masih bisa melaut dengan keuntungan yang pas-pasan.
“Ya moga aja gak naik harga yang subsidi, kalau naik penghasilan bisa pas-pasan, bahkan mungkin bak-bok (tidak ada untung) kalau solarnya naik cuma habis buat beli BBM saja,” keluh bapak 4 anak ini.
Selama ini diakuinya tidak ada kendala dalam pembelian solar subsidi. Setiap nelayan yang sudah terdaftar di Dinas Perikanan Kota Semarang, masing-masing mendapatkan satu barcode dengan kuota S batas tertentu yang bisa digunakan untuk membeli solar subsidi di SPBU.
“Sehari bisa memberi 25-30 liter untuk sekali melaut. Kadang kalau batas pembelian menggunakan barcode sudah habis ya tidak bisa beli jadi pakai sisa yang beli yang masih ada,” ungkapnya.
Muntolib mengatakan selama ini ia hanya pergi melaut tak jauh dari perairan Tambaklorok. Ia menyebut lokasi pencairan ikannya hanya di batas sisi timur dan barat dam saja.
“Kalau orang sini tidak jauh-jauh kan perahu juga tidak besar. Paling sampai barat atau timur dam itu saja,” jelasnya.
Ia biasanya berangkat pukul 05.00 dan kembali ke darat sekitar pukul 12.00 siang. Pada musim kemarau sepeti ini, ia bersama nelayan lain biasanya banyak memburu rajungan dan cumi-cumi.
Harga jual cumi-cumi yang ia dapatkan mencapai Rp50 ribu per kilo. Bisanya Muntolib bisa membawa pulang uang berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
“Ya penghasilan kotor bisa Rp500 ribu sampai Rp1 juta tapi belum dipotong uang solar itu biasanya habis Rp250 ribuan, lalu buat makan, rokok, penghasilannya ga menentu,” tuturnya.


















