Ia juga meluruskan isu yang menyebut pemilik toko adalah anak Wali Kota Semarang. Ia menegaskan kepemilikan usaha tersebut mayoritas ada di tangannya.
“Saya sebagai marketing sekaligus owner, sebagian besar saham saya yang pegang. Tim saya ada partner yang mengelola produksi,” bebernya.
Aldin mengatakan, sosok yang dikaitkan sebagai putri wali kota tidak memiliki kepemilikan usaha, melainkan hanya membantu dari sisi informasi perizinan.
“Dia hanya membantu karena teman SMA saya. Memberi tahu soal perizinan, cara komunikasi dengan cagar budaya, dan sebagainya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, seluruh proses perizinan ditempuh sesuai prosedur dan memakan waktu cukup panjang yakni hampir enam bulan, dari September 2025 sampai Maret 2026.
Aldin mengaku memilih Pasar Johar karena alasan sentimental yakni memiliki kenangan masa lalu yang berkaitan dengan kawasan tersebut.
“Dulu waktu SMP saya jualan barang dari Pasar Maling. Dari situ saya merasa Pasar Johar punya banyak cerita, jadi kami memilih di sini,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran usaha kuliner di lokasi tersebut justru memberi dampak positif bagi pedagang lain.
“Awalnya kondisi di sini sangat sepi. Setelah ada kuliner, teman-teman pedagang merasa terbantu karena trafik meningkat dan omzet ikut naik,” tandasnya.




















