Perjalanan menuju capaian itu jauh dari lurus. Dakar Classic memiliki pola lomba yang berbeda dengan reli-reli lain yang lebih akrab bagi pereli Indonesia. Tidak ada adu siapa tercepat dari start ke finis. Peserta dituntut menjaga kecepatan rata-rata tertentu, membaca koordinat, mematuhi radius waypoint, dan menghindari penalti detik demi detik.
“Ini bukan start sampai finis cepat-cepatan. Ini tepat-tepatan,” kata Shammie.
Dalam satu segmen, kecepatan rata-rata bisa ditetapkan 85 kilometer per jam, terlepas dari kondisi lintasan. Terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko penalti. Di dashboard indikator akan menyala merah jika melenceng, sementara tekanan tetap berjalan tanpa kompromi.
Tekanan itu hadir sejak pagi buta. Dari bivouac menuju titik start, jarak tempuh bisa mencapai 30 hingga 100 kilometer sebelum balapan dimulai. Suhu gurun pada pagi hari bisa turun hingga sekitar 9 derajat celsius, lalu melonjak tajam di siang hari. Tidak ada jeda makan siang resmi. Asupan terbatas pada snack dan buah di dalam mobil, sementara tubuh dibungkus wearpack berjam-jam.
Secara fisik, Dakar menguras tenaga. Secara mental, ia memaksa pembalap untuk mengambil keputusan terus-menerus. Secara psikis, ia menempatkan mereka pada situasi yang nyaris tidak memberi ruang untuk ragu. Yang Shammie bilang, Dakar selalu memaksa para pembalap untuk menyerah.
Titik terendah
Shammie pernah berada di titik terendah saat mobilnya terjebak di pasir. Proses recovery dilakukan berdua, tanpa bantuan luar, dengan keluar-masuk mobil di posisi ekstrem dan membuka-pasang sabuk pengaman berkali-kali.


















