Tradisi Susuk Wangan: Nguri-uri Budaya dan Jaga Sumber Air

Kemeriahan prosesi Susuk Wangan, Selasa 10 Februari 2026 (fot: dok)
Kemeriahan prosesi Susuk Wangan, Selasa 10 Februari 2026 (fot: dok)

MATASEMARANG.COM – Tradisi Susuk Wangan di Sendang Kalipakis, Dusun Nalirejo, Desa Ngajaran, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, berlangsung meriah dan khidmat, Selasa 10 Februari 2026.

Ratusan warga berarak membawa tumpeng, jajanan pasar, dan hasil bumi menuju sendang sebagai simbol rasa syukur sekaligus menjaga kelestarian sumber air.

Ketua Pelaksana Merti Bumi Kabupaten Semarang Romo Pujianto menjelaskan Susuk Wangan berarti resik-resik atau bersih-bersih sekitar sumber air.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Wakil Bupati Semarang Ajak Warga Kurangi Sampah Plastik

“Resik-resik mata air harus dihidupkan, terutama yang berada di bawah pohon besar. Ini menggugah kesadaran bersama betapa penting menjaga kelestarian air untuk kehidupan,” ujarnya.

Prosesi pengambilan mata air dilakukan oleh Camat Tuntang Dhani Ardianto, Kapolsek Tuntang AKP Handayani, perwakilan Koramil, Kades Ngajaran Sabar Triyono, serta tokoh masyarakat lintas agama.

Air dari sumber tersebut nantinya dikumpulkan di Ungaran untuk prosesi jamasan pusaka di pendapa rumah dinas bupati Semarang.

Acara juga diisi doa lintas agama, blebetan pohon, pelepasan burung perkutut, penanaman pohon, hingga pelepasan ikan.

BACA JUGA  Pensiunan PNS Semarang Menang Undian Mobil Hybrid dari Tabungan Bima Bank Jateng

Puncak kemeriahan terjadi saat 50 kilogram ikan lele dilepas ke Sungai Pakis. Warga dari anak-anak hingga orang tua bersukaria menangkap ikan, menciptakan suasana penuh tawa dan kebersamaan.

Kadus Nalirejo Yopi Sunaryo menyebut Susuk Wangan rutin digelar tiap tahun sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

“Acara kali ini yang paling meriah. Harapannya warga semakin peduli menjaga mata air dan sungai,” katanya.

Pos terkait