Singapura, sebagaimana biasanya, tidak mau ketinggalan. Program AI for Everyone dan AI for Students diluncurkan sejak 2019 untuk memastikan anak-anak terbiasa dengan teknologi ini sejak dini.
Lalu bagaimana dengan Indonesia yang masih sibuk pada keraguan lama. Negeri ini masih mengulang alasan klasik bahwa anak-anak sebaiknya menguasai pelajaran dasar terlebih dahulu. Padahal, kenyataan di lapangan justru berkata lain.
Beberapa waktu lalu, penulis berbincang dengan seorang guru SMP di Depok. Ia bercerita bagaimana murid-muridnya sudah menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan tugas, membuat cerita, bahkan merancang poster sederhana. Tanpa menunggu restu kurikulum, AI sudah masuk ke kelas lewat gawai anak-anak.
Mereka menggunakan Midjourney untuk membuat ilustrasi, Gemini untuk mencari informasi. Ada yang kreatif, tapi ada juga yang hanya menyalin tanpa mengerti.
Tanpa bimbingan guru, proses belajar ini ibarat kendaraan balap tanpa rem, bisa mengantar ke garis finis kreativitas, tapi juga bisa tergelincir ke jurang informasi berbahaya.
Literasi abad 21
Kesalahpahaman lain yang masih sering terdengar adalah anggapan bahwa AI hanya sekadar aplikasi pintar yang siap pakai. Pandangan ini menyesatkan.
AI adalah ilmu dasar yang mencakup machine learning, deep learning, natural language processing, computer vision, hingga large language models.
Jika generasi muda di Indonesia hanya berhenti pada posisi pengguna pasif, masa depan bangsa ini akan bergantung penuh pada produk asing.
Sebaliknya, memahami AI sejak dini akan membekali mereka dengan kemampuan membangun algoritma, menciptakan model, dan merumuskan solusi nyata bagi kehidupan.


















