Memasukkan AI dan koding ke dalam kurikulum bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dunia kerja, industri, bisnis, pemerintahan, bahkan seni, kini semua digerakkan oleh AI.
Menunda berarti menjadikan Indonesia sekadar pasar empuk bagi teknologi asing. Tetapi melangkah sekarang berarti menyiapkan jutaan inovator dan pemimpin global di masa depan.
Pada akhirnya, integrasi AI ke dalam pendidikan dasar bukan hanya soal teknologi. Ini soal kedaulatan bangsa.
Kebijakan publik harus beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia. Indonesia punya pilihan sederhana antara tetap jadi penonton atau melompat menjadi pemain utama.
Jangan sampai anak-anak di negeri ini hanya tumbuh sebagai budak digital, fasih berselancar di media sosial tapi tak pernah berkesempatan menciptakan teknologi yang mereka gunakan. Saatnya mereka dipersiapkan sebagai penguasa teknologi.
Jika langkah berani ini Indonesia ambil sekarang, generasi emas 2045 akan benar-benar berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju, bukan lagi sebagai konsumen, tetapi sebagai kreator yang diakui dunia.
*) Penulis adalah CEO AI SmartX Academy, Ketua Komtap AI APTIKNAS, dan World Top 200 CIO Indonesia 2025. Alumni Digital Leadership Academy Kominfo–NUS ini aktif memperjuangkan literasi dan industrialisasi AI untuk masa depan Indonesia yang cerdas dan mandiri.


















