MATASEMARANG.COM – Jembatan yang menghubungkan antara wilayah Mangunharjo dan Tambaksari jebol diterjang banjir pada 15 Januari 2026 lalu.
Padahal jembatan ini merupakan akses utama yang digunakan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas. Bahkan akibat jebolnya jembatan tersebut, mobilisasi masyarakat harus menggunakan rakit dan harus merogoh kocek Rp2.000 sekali jalan.
Menyikapi kondisi tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng akan berupaya memastikan keselamatan dan kenyamanan warga dengan menerjunkan perangkat daerah ke lokasi untuk melakukan pengecekan sebagai langkah awal terhadap tingkat kerusakan infrastruktur.
“Kami langsung meminta rekan-rekan OPD terkait untuk langsung menuju lokasi guna pengecekan keseluruhan. Ini memang jembatan lama, dibangun tahun 1996 dan kondisinya sudah tidak mampu menahan beban banjir yang semakin ekstrem. Karena itu, penanganan harus kita lakukan secara menyeluruh, tidak hanya jembatannya saja, tetapi juga sungai dan bantaran di sekitarnya,” kata Agustina, Jumat 30 Januari 2026.
Agustina mengatakan curah hujan yang tinggi yang terjadi belakangan hari terakhir ini memang berdampak signifikan bagi Kota Semarang. Pasalnya, ibu kota Jawa Tengah ini secara geografis merupakan wilayah lowland (dataran rendah).
Aliran air dari wilayah atas yang minim resapan menyebabkan debit air langsung mengalir ke hilir dan muara, sehingga memperbesar risiko banjir dan gerusan infrastruktur.
“Air hujan dari wilayah atas langsung masuk ke Kota Semarang karena daya resapnya sudah sangat berkurang. Fenomena alam ini membuat tekanan pada sungai dan jembatan semakin besar,” terangnya.


















