Selama hampir dua jam di sana, dipandu manajer produksi dan humas, para ibu diajak berkeliling mulai melihat gudang penyimpanan bahan baku seperti adas dan pala, hingga proses pengemasan primer, sekunder, dan tersier.
Hal yang menarik perhatian dan membuat kagum ibu-ibu IKWI yaitu meskipun SidoMuncul merupakan perusahaan besar, namun di beberpa bagian masih memanfaatkan teknologi konvensional. Pada pengemasan sekunder dan tersier pun tetap mempertahankan tangan-tangan terampil pekerja, bukan mesin.
Pada sesi terakhir, mereka diajak ke agrowisata yang memiliki telaga dengan koleksi sekitar 400 tanaman, serta ratusan satwa itu. Selain menyaksikan tayangan video company profile, ada sesi tanya jawab, dan peserta juga berkesempatan berbelanja produk-produk SidoMuncul.
Puas
Berbagai pertanyaan kritis dari ibu-ibu mencuat dalam sesi itu, diantaranya mengapa masih menggunakan alat konvesional padahal sudah era Industri 4.0, apa saja produk unggulan, dan sikap korporasi menghadapi isu penggunaan bahan pengawet.
”Kami sungguh merasa puas berkunjung ke sini, dan menjawab semua rasa penasaran kami atas perusahaan yang memiliki sejarah panjang ini. Kami bertambah ilmu dan wawasan. Senang oleh keramahtamahannya. Terima kasih atas support dan fasilitasnya,” kata Ketua IKWI Lampung Yeni Puspasari.
Anggota IKWI Lampung lainnya, Vita, juga merasa salut dengan kiprah perusahaan tersebut yang tetap memberdayakan warga sekitar untuk bekerja. Selain, itu masih ada mesin manual di sini.


















