MATASEMARANG.COM – Pemerintah Kota Semarang bakal bertransformasi untuk menghadapi banjir pada tahun 2026. Adanya banjir besar pada tahun 2024-2025 memiliki hikmah besar yang membuat Semarang akan berupaya lebih keras untuk menghadapi tantangan alam ini.
Pemkot Semarang tidak lagi sekadar melawan air dengan menambah ratusan pompa, tetapi mulai mengelola perilaku air itu sendiri berdasarkan prinsip-prinsip fisika yang cerdas. Ini bukan lagi soal kekuatan, melainkan soal kearifan.
Strategi baru ini, seperti diungkapkan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng yang berfokus pada membenahi akar masalah. Akar masalah itu, dalam bahasa sederhana, adalah bagaimana air mengalir, di mana ia menumpuk, dan bagaimana kita mengalirkannya kembali ke laut.
Pelebaran Saluran: Bukan Sekadar Memperbesar, Tapi Memperlancar
Intervensi paling simbolis adalah pelebaran saluran pembuangan air di Kaligawe dari 10 meter menjadi 40 meter. Bayangkan selang air untuk menyiram taman. Jika Anda memaksa volume air besar melalui selang kecil, air akan menyembur kencang, tetapi tekanan di dalam selang sangat tinggi dan mudah tersumbat.
Itulah kondisi lama Semarang. Saluran sempit memaksa air mengalir dengan kecepatan tinggi dan tekanan besar. Sedikit hambatan, sampah, sedimentasi langsung membuatnya mampet. Konsekuensinya, air meluap.
Kini, dengan saluran yang empat kali lebih lebar, hukum alam bekerja. Untuk volume air hujan yang sama, air tidak perlu terburu-buru. Ia bisa mengalir lebih lancar dan tenang.
Pelebaran ini seperti memberi ruang bernapas bagi aliran air. Risiko penyumbatan berkurang drastis karena air tidak lagi berebutan tempat. Seperti kata wali kota, ini adalah “rekayasa ulang batas kemampuan infrastruktur” untuk menerima beban yang lebih besar.


















