MATASEMARANG.COM – Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Pekalongan sepanjang tahun 2025 menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Pekalongan.
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Aaf, menyebut fenomena tersebut sebagai alarm penting terkait kesehatan mental masyarakat.
Dalam wawancara usai membuka kegiatan Pembekalan Penegakan Perda dan Perkada bagi Aparatur Satpol P3KP Kota Pekalongan di Aula Kantor BPKAD, Aaf menegaskan perlunya evaluasi bersama.
“Kalau saya catat, di tahun 2025 ini sudah ada tiga kejadian, dan itu waktunya tidak lama. Ini tentu menjadi perhatian kita semua,” ujarnya, Senin 22 Desember 2025.
Menurut Aaf, sejumlah kasus diduga dipicu tekanan psikologis hingga masalah kesehatan mental yang tidak tertangani. Salah satu korban di Sungai Lodji bahkan diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan.
“Kejadian ini jadi bahan evaluasi kita bersama, terutama lurah dan camat. Kita harus betul-betul mendata warganya,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Pekalongan akan memperkuat sistem pendataan warga yang membutuhkan perhatian khusus melalui kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS).
Pendataan mencakup kondisi sosial-ekonomi hingga catatan kesehatan mental sebagai dasar intervensi lebih lanjut.
Aaf juga mendorong masyarakat memanfaatkan fasilitas kesehatan jiwa yang tersedia. Layanan kesehatan mental dapat diakses di RSUD Bendan, RS Junaid, maupun rumah sakit swasta dengan dukungan UHC dan BPJS.
“Semua bisa difasilitasi, jadi jangan khawatir soal biaya,” tegasnya.


















