135 Siswa dan Guru di Jakarta Keracunan MBG

SPPG yang Sama

“Kita juga lagi telusuri ini dari mana SPPG-nya. Kemungkinan sama, karena sekolah lain juga kena. Tapi sampai sekarang belum ada penjelasan,” ujar Z.

Z juga menyayangkan minimnya informasi resmi dari penyelenggara maupun sekolah kepada para orang tua.

Bacaan Lainnya

Z mengaku komunikasi yang diterima sejauh ini hanya berfokus pada penanganan korban, tanpa menyentuh akar persoalan.

BACA JUGA  4 Bakal Calon Serahkan Berkas Pendaftaran Rektor Unsoed Periode 2026–2030

“Dari grup kelas, guru hanya menyampaikan supaya anak-anak segera dibawa ke rumah sakit, nanti didata. Terus juga dibilang jangan dikasih susu. Tapi soal penyebab atau menu, belum ada klarifikasi,” kata Z.

Z meminta harus adanya keterbukaan dari pihak terkait, mengingat jumlah korban yang cukup besar dan melibatkan lebih dari satu sekolah.

Program MBG ini, kata Z, telah berjalan sekitar enam bulan di sekolah tersebut.

Selama periode itu, menurut Z, belum pernah terjadi kejadian serupa.

BACA JUGA  Deradikalisasi Mantan Narapidana Terorisme, Dosen UIN Walisongo Semarang Tawarkan Strategi Holistik ‘Kopisosis’

Namun, insiden ini membuat sebagian orang tua mulai mempertanyakan kelayakan dan pengawasan program tersebut.

Evaluasi menyeluruh

Z bahkan menyarankan agar pelaksanaan MBG dievaluasi secara menyeluruh.

Apalagi, dengan sistem bekal dari rumah, orang tua dapat memastikan kualitas dan kebersihan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

“Kalau saya pribadi, lebih baik dihentikan dulu atau diganti mekanismenya. Misalnya diuangkan saja, jadi orang tua bisa siapkan bekal dari rumah. Lebih aman dan jelas,” ucap Z.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari penyedia MBG maupun otoritas terkait mengenai penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.

Pos terkait