Yesi menambahkan organ paru-paru juga terdampak akibat lemak berlebih, terutama jika lemak ada di area perut bisa menekan diafragma sehingga menyebabkan sesak nafas.
“Efek lainnya terjadi pada sistem reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan karena ketidakseimbangan hormon,” kata Yesi.
Selain itu, berbuka dengan gorengan bisa mengganggu pencernaan karena saluran cerna dipaksa bekerja keras setelah berpuasa selama kurang lebih 12 jam.
Yesi mengatakan terlalu sering makan gorengan dapat memberikan efek negatif pada orang yang sudah kegemukan ataupun obesitas karena bisa berisiko mengalami perlemakan hati.
“Apabila terjadi terus menerus dan tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup dan aktivitas fisik yang memadai, maka terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh yang sangat berisiko terjadi obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker dan penyakit lainnya,” katanya
Ia menyarankan frekuensi makan gorengan yang masih dalam batas aman adalah maksimal dua buah sehari bagi yang sehat atau status gizi masih normal, asalkan dalam menu makannya tidak ditambah lagi dengan pengolahan yang digoreng atau bersantan.
Bagi yang kegemukan atau obesitas tidak dianjurkan mengonsumsi gorengan, namun masih boleh dikonsumsi satu kali seminggu.
Minyak yang digunakan juga sebaiknya minyak baru, bukan bekas dan tentunya perlu diimbangi juga dengan asupan serat yang cukup dan aktivitas fisik.
Yesi mengatakan untuk menghindari penurunan fungsi organ tubuh akibat gorengan saat berbuka puasa, alternatif takjil atau makanan yang lebih sehat dan baik untuk metabolisme tubuh sebaiknya dimulai dengan air putih, kemudian bisa dilanjutkan dengan takjil yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit sebagai pengganti kehilangan cairan saat puasa seperti kurma, air kelapa, buah-buahan atau salad buah. [Ant]


















