MATASEMARANG.COM – Provinsi Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,35 persen (month-to-month/mtm) pada Januari 2026, setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,50 persen (mtm) pada Desember 2025. Angka ini lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang sebesar 0,15 persen (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah M. Noor Nugroho dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa deflasi terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras.
Penurunan harga tersebut sejalan dengan masuknya masa panen dan normalisasi permintaan pasca Hari Natal dan Tahun Baru.
“Deflasi Januari 2026 di Jawa Tengah terutama dipengaruhi oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil -0,51 persen,” jelas Noor, Senin 9 Februari 2026.
Meski demikian, deflasi lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan, bawang putih, sepeda motor, mobil, dan beras. Inflasi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya tercatat sebesar 0,16 persen (mtm), didorong oleh harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi akibat ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Januari 2026 tercatat 2,83 persen (year-on-year/yoy), masih dalam rentang sasaran 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy).
Seluruh kota IHK di Jawa Tengah mengalami deflasi. Berikut ini detailnya:
- Wonogiri: -0,52 persen (mtm)
- Wonosobo: -0,51 persen (mtm)
- Cilacap: -0,42 persen (mtm)
- Surakarta: -0,38 persen (mtm)
- Purwokerto: -0,36 persen (mtm)
- Rembang: -0,29 persen (mtm)
- Kudus: -0,26 persen (mtm)
- Semarang: -0,25 persen (mtm)
- Tegal: -0,24 persen (mtm)
Bank Indonesia bersama Forum TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID Kota/Kabupaten akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran.


















