Selain pembersihan fisik di badan dan bantaran sungai, Pemerintah Kota Semarang juga menyerahkan kantung pilah sampah kepada warga. Pembagian ini ditujukan untuk mendorong perubahan perilaku dari tingkat rumah tangga, agar sampah tidak lagi berakhir di sungai.
“Kalau kita memproduksi sampah, maka sejak dari tangan kita pertama kali harus dibuang di tempatnya. Di rumah, sampah sebaiknya sudah dipilah yang organik dan plastik. Maka hari ini kita bagikan kantung pilah sampah sebagai pemicu,” jelasnya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, antara lain OPD di Kota Semarang, camat dan lurah setempat, pengurus dan koordinator bank sampah, Saka Kalpataru, Satgas Bersih Lingkungan (Satgas Sungai), sekolah Adiwiyata, komunitas, serta warga Gedawang dan Pudak Payung.
Aksi bersih Sungai Jaten tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari sebagai momentum peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Melalui penguatan Satgas Berlian (Bersih Lingkungan dan Sungai), Pemerintah Kota Semarang juga mendorong keterlibatan warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan. Gerakan kurve atau kerja bakti rutin terus diperkuat guna memastikan saluran air tetap bebas dari sampah.
Pemkot Semarang menegaskan bahwa pengendalian sampah dimulai dari rumah tangga. Sungai yang bersih hari ini adalah hasil kerja bersama. Ketika warga disiplin memilah dan membuang sampah pada tempatnya, dampaknya kembali kepada masyarakat: lingkungan lebih sehat, aliran air lancar, dan risiko banjir dapat ditekan.


















