Lebaran Bukan Ajang Selebrasi Kaum Pemenang

MATASEMARANG.COM – Alunan takbir dari pelantang masjid menggema setiap malam menjelang Idulfitri keesokan hari. Gema mengagungkan kebesaran Allah itu serasa mengalirkan getaran lembut kemenangan setelah seseorang jalani puasa selama sebulan. 

Namun, di balik pintu-pintu rumah, Lebaran sebenarnya juga menyimpan wajah yang lebih duniawi. Kumpul keluarga besar dalam momen Lebaran juga membawa siksaan tersembunyi bagi mereka yang sedang terseok, mereka yang baru saja jatuh, dan mereka yang selama ini dianggap sebagai “pecundang” oleh standar sosial yang kejam.

BACA JUGA  Seruan Kesadaran Ekologis dari Bencana Sumatra Barat

Apalagi kondisi perekonomian domestik saat ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak terjadi PHK sehingga Lebaran tahun ini terasa berat.

Bacaan Lainnya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa momen kumpul keluarga besar sering kali berubah menjadi ajang unjuk pencapaian. Pertanyaan tentang “kerja di mana?”, “kapan menikah?”, hingga “sudah punya apa?” menjadi momok yang membuat sebagian orang memilih untuk membatasi silaturahmi. Setidaknya sementara.

BACA JUGA  Belajar dari Blunder Bupati Pati

Seolah dalam perjamuan di meja makan saat Lebaran hanya disediakan kursi bagi mereka yang pulang dengan sukses finansial, jabatan tinggi, atau pasangan.

Padahal, jika kita menilik lebih dalam pada esensi Idul Fitri, tidak ada syarat “sukses secara finansial” untuk merayakan hari suci ini.

Lebaran seharusnya menjadi zona nyaman bagi para penyintas. Mereka adalah individu yang berhasil bertahan hidup dari gempuran PHK, mereka yang sedang berjuang melawan depresi, atau mereka yang baru saja gagal dalam merintis usaha.

Pos terkait