Bagi kelompok ini, keberhasilan untuk tetap hadir, tetap duduk di tengah kerabat, dan tetap tersenyum di tengah badai adalah sebuah kemenangan yang jauh lebih hakiki daripada sekadar bonus akhir tahun yang melimpah.
Kompetisi Sosial yang Kejam
Kiranya, kita perlu mendekonstruksi makna “pecundang” dalam konteks keluarga. Sering kali, label ini disematkan kepada mereka yang jalannya berbeda atau lebih lambat. Namun, bukankah keluarga seharusnya menjadi jaring pengaman sosial paling bawah? Jika di dunia luar mereka sudah dipukuli oleh kompetisi yang kejam, rumah seharusnya menjadi tempat mereka mengobati luka, bukan tempat mereka dihakimi kembali.
Memberikan panggung bagi para penyintas dan mereka yang merasa kalah berarti mengubah arah pembicaraan di meja makan. Alih-alih bertanya tentang hasil, menyentuh wajah-wajah ceria anak-anak mereka bisa meredakan sesaat tekanan hidup orang tua mereka.
Mengakui keberadaan mereka yang sedang di bawah adalah bentuk validasi bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh apa yang mereka bawa di tangan saat pulang kampung, melainkan oleh kehadiran mereka sebagai bagian dari silsilah darah yang tak terputus.
Lebaran pada masa depan haruslah inklusif. Ia harus menjadi momen di mana si sukses merangkul si gagal tanpa nada menggurui. Si pemenang perlu menyediakan bahu bagi si penyintas untuk bersandar sejenak sebelum kembali bertarung di “medan perang” kehidupan setelah libur usai.
Sebab, roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar. Hari ini mungkin kita duduk di kursi pemenang, namun esok lusa, bisa jadi kita yang membutuhkan kehangatan pelukan keluarga untuk sekadar bertahan hidup.


















