Dawet Ayu, lanjutnya, memang punya ciri khas yang sulit ditiru. Tepung untuk cendolnya berasal dari aren, begitu pula gula yang memberi rasa manisnya. Perpaduan itu menghadirkan cita rasa legit dan tekstur kenyal yang membedakannya dari dawet di daerah lain.
“Di seluruh penjuru Indonesia, pedagang Dawet Ayu pasti adalah orang Banjarnegara,” ujarnya dengan bangga.
Perayaan hari jadi itu kian semarak dengan tadarus Al-Qur’an, buka bersama, dan pemecahan rekor minum 45.500 gelas Dawet Ayu yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri).
Gelas-gelas terangkat serempak, seolah menjadi toast kolektif untuk warisan rasa yang kini makin kokoh identitasnya.
Di tengah riuh perayaan, Dawet Ayu tak lagi sekadar minuman pelepas dahaga. Ia telah menjelma menjadi simbol kebanggaan yang diakui negara—dari warung kaki lima ke panggung resmi, dari tradisi lisan ke lembar sertifikat. [Ant]


















