”Sekolah Jurnalistik bermanfaat sebagai soft skill menulis bagi lulusan. Di sini diajarkan bagaimana menelaah sebuah berita lalu menuangkannya ke dalam tulisan, bagaimana ada keseimbangan antarsumber berita. Perlu dipahami, sekolah ini tidak hanya untuk menjadi seorang wartawan, tapi lebih dari itu ilmu jurnalistik bisa berguna untuk berbagai aktivitas profesi dan instansi,” kata Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Administrasi Negara itu.
Dia menjelaskan, kegiatan ini memang bekal dasar menjadi wartawan. Namun dalam skala luas, berguna untuk bekal bekerja di instansi pemerintah, baik daerah hingga pusat. Kemampuan menulis yang dipahami akan dibutuhkan ketika lulusan berkecimpung dalam kehumasan di instansi.
”Itulah kenapa kami dan PWI memelihara Sekolah Jurnalistik ini karena memberikan kecakapan tambahan bagi lulusan Fakultas Hukum. Tujuan lainnya, adalah memperkuat daya saing individu dan institusi. Saya berpesan, bagi peserta untuk manfaatkan kesempatan singkat ini sebaik mungkin,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam materinya, Amir Machmud NS banyak mengupas tentang bagaimana seharusnya menjaga etika menulis atau memosting berita. Muncul konflik dalam pemberitaan, karena disebabkan ada pelanggaran etika, tidak akurat, dan tanpa konformasi.
Sedangkan R Widiyartono memberikan panduan bagaimana menulis artikel ilmiah populer dengan bahasa yang komunikatif dan efisien, menggali ide-ide, serta menyusun kalimat pembuka secara menarik.
Materi Konvergensi Media yang ditandai dengan digitalisasi, konvergensi teknologi, dan konvergensi konten disampaikan Achmad Zaenal Muttaqin. Wartawan senior dan ahli hukum Budi Sutomo banyak menyampaikan kiat-kiat menulis legal opinion yang menjadi acuan dalam sebuah peristiwa hukum.


















