Pemprov Jateng: Bencana di Lereng Gunung Slamet Bukan Akibat Tambang

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Agus Sugiharto (foto: Pemprov Jateng)
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Agus Sugiharto (foto: Pemprov Jateng)

MATASEMARANG.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, bukan disebabkan oleh aktivitas pertambangan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Agus Sugiharto menyampaikan bahwa longsor dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung beberapa hari berturut-turut.

Kondisi tersebut membuat tanah jenuh air dan menurunkan kestabilan lereng.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Menteri PANRB: ASN Bekerja FWA, Bukan WFA!

“Longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di tubuh Gunung Slamet akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Ini murni faktor alam,” ujarnya, Rabu 28 Januari 2026.

Agus menjelaskan, tanah di kawasan tersebut memiliki porositas tinggi sehingga mudah menyerap air.

Ketika mencapai titik jenuh, ditambah kemiringan lereng yang curam serta jenis batuan yang mudah lapuk, risiko longsor semakin besar.

Menanggapi isu keterkaitan tambang, Agus menegaskan tidak ada aktivitas pertambangan di tubuh Gunung Slamet.

BACA JUGA  Remaja Pendaki Gunung Slamet Hilang Sejak 27 Desember 2025

Lokasi tambang berada di kaki gunung dengan elevasi jauh lebih rendah dari titik longsor.

“Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor. Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Dinas ESDM Jateng rutin merilis peta potensi gerakan tanah setiap bulan, terutama di musim penghujan.

Peta tersebut disusun berdasarkan overlay data rawan longsor dengan prakiraan cuaca dari BMKG dan dibagikan kepada bupati serta wali kota sebagai peringatan dini.

Pos terkait