Penuaan Penduduk Asia Tenggara Bakal Guncang Sektor Pertanian

“Kita perlu melakukan penelitian kolaboratif lintas negara untuk mempersiapkan era penyusutan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya kepada hadirin yang merupakan para peneliti dan akademisi dari IPB dan berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia dan negeri tetangga secara daring.

Pada simposium bertema Meningkatkan Sistem Pangan dan Penghidupan Berkelanjutan (Improving Sustainable Food Systems and Livelihoods) itu, Prof Izuru Saizen mengatakan keberlanjutan pertanian di kawasan perdesaan sangat penting karena wilayah ini merupakan pusat produksi pangan di seluruh negara Asia.  

BACA JUGA  Wujudkan Kedaulatan Pangan, Bank Jateng Bantu Petani Blora

Sementara itu Guru Besar dari Pusat ASEAN Universitas Kyoto Prof Eiji Nawata memaparkan perkembangan produksi beras di Asia Tenggara selama empat dekade terakhir.

Bacaan Lainnya

Peningkatan produksi tertinggi dicatat Thailand (17 persen), disusul Kamboja (6,3 persen), Laos (3,5 persen), Vietnam (3 persen), Filipina (2,7 persen), Indonesia (1,5 persen), dan Malaysia (1,2 persen).

BACA JUGA  Cegah Keracunan, BGN Buka 60.000 Lowongan "Chef" untuk Dapur MBG

Ia juga menyoroti isu-isu kunci bagi ilmu pertanian masa depan, seperti adaptasi teknis terhadap pemanasan global, pengembangan varietas, sistem pertanian baru, teknologi hemat energi, biologi molekuler dan mikrobiologi, pertanian cerdas berbasis artificial intelligence (AI), pembangunan pedesaan, serta perbaikan lingkungan global berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi, menyambut delegasi tiap negara dengan mengenalkan berbagai inovasi, fasilitas, dan program IPB University yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pos terkait