MATASEMARANG.COM – Konsumsi gas elpiji bersubsidi 3 kilogram dari tahun ke tahun terus menanjak. Bahkan, banyak pemakai gas melon ini merupakan kelompok masyarakat mampu. Padahal, gas elpiji 3 kg hanya untuk masyarakat miskin.
Alokasi gas elpiji 3 kg bakal membengkak pada tahun-tahun mendatang bila tidak ada pengendalian yang efektif.
Oleh karena itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar mengusulkan pembatasan pembelian elpiji 3 kg menjadi 10 tabung per bulan per kartu keluarga (KK) mulai triwulan II 2026.
“Tanpa pengendalian, artinya distribusi ini dilakukan dengan tidak adanya batasan-batasan, itu akan meningkat sebesar 3,2 persen dari alokasi,” ujar Muchtasyar dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.
Pembengkakan yang terjadi tanpa adanya pembatasan pembelian elpiji 3 kg diperkirakan mencapai 788 ribu ton sepanjang 2026.
Adapun kuota penyaluran elpiji 3 kg yang ditetapkan untuk 2026 sebesar 8 juta ton, dengan demikian tanpa pembatasan dapat membengkak menjadi 8,788 juta ton.
“Tetapi kalau dari prognosa terhadap penyaluran elpiji yang dibatasi atau dikendalikan, ini akan meningkat sekitar 300 ribu ton, tidak terlalu banyak,” ucapnya.
Berdasarkan paparan Pertamina, realisasi penyaluran elpiji 3 kg tahun 2025 sebesar 8.519.243 MT atau sebesar 99,77 persen terhadap kuota revisi penyaluran tahun 2025 sebesar 8.544.881 MT.
Muchtasyar menyampaikan kuota yang diberikan oleh pemerintah dan kuota revisi penyaluran elpiji memiliki kecenderungan untuk meningkat, berbeda dengan BBM subsidi yang cenderung menurun.


















