Manuskrip tersebut merupakan karya ulama bernama Kodi Syahabuddin di Semarang, yang disalin oleh ulama Kudus dari kawasan Damaran, dekat Menara Kudus, bernama Abu Raden Muhammad, yang saat itu menjabat sebagai kodi atau hakim Kudus.
Selain karya di bidang fikih dan ushul fikih, Turats Ulama Kudus juga menyimpan berbagai kitab maulid karya ulama Kudus. Di antaranya Fathul Aliyil Garim karya Syeikh Abdul Hamid Kudus, seorang ulama asal Kudus yang kemudian menjadi pengajar di Masjidil Haram. Kitab tersebut hingga kini masih dibaca rutin setiap malam 17 Hijriah di kawasan Menara Kudus.
Selain itu, terdapat pula kitab maulid karya KH Ahmad Ratin Ahmad Kamal Hambali, pendiri NU asal Kudus, serta terjemahan dan syarah Maulid Al-Barzanji berbahasa Jawa karya KH Subhan Dili Tempasan.
Nanal menegaskan kehadiran Rais Aam PBNU dalam peresmian ini menjadi bentuk dukungan penuh PBNU terhadap upaya pelestarian turats ulama Nusantara.
“Markaz ini diharapkan menjadi simpul penguatan tradisi keilmuan pesantren yang berakar pada sanad keilmuan yang otoritatif, sekaligus menjawab tantangan zaman dengan Islam yang moderat dan berkarakter,” ujarnya dikutip Antara.
Dengan berdirinya Markaz Turats Ulama Kudus, nilai-nilai keilmuan, spiritualitas, serta keteladanan para ulama diharapkan dapat terus diwariskan dan diajarkan kepada generasi mendatang. ***


















