Oleh Sizuka
MATASEMARANG.COM – Akhir tahun datang hampir selalu dengan pola yang sama. Kalender menipis, hujan turun lebih sering, dan lini masa mulai dipenuhi koper, tiket, potret kebersamaan, serta kalimat reflektif yang terasa seragam.
Seolah ada kesepakatan tak tertulis yang dipahami bersama: akhir tahun harus diisi dengan liburan, perenungan, dan perayaan. Bukan sekadar pilihan, melainkan rangkaian ritual yang nyaris wajib dijalani.
Dalam beberapa tahun terakhir, akhir tahun tidak lagi sekadar penanda waktu. Ia menjelma momen sosial yang sarat makna simbolik.
Liburan menjadi tanda keberhasilan mengelola hidup, refleksi menjadi bukti kedewasaan, dan pesta menjadi penegasan bahwa kita masih mampu merayakan diri. Semua itu hadir, bukan hanya sebagai pengalaman personal, tetapi juga sebagai pesan yang disampaikan ke ruang publik.
Ritual ini bekerja halus, tanpa paksaan formal. Tak ada aturan tertulis, namun tekanannya nyata. Mereka yang bepergian dianggap “mengisi hidup”, sementara yang memilih diam di rumah sering kali merasa perlu memberi penjelasan.
Seakan beristirahat, tanpa agenda besar adalah kekosongan yang harus dibenarkan. Dalam situasi ini, akhir tahun perlahan bergeser dari ruang memilih menjadi ruang mengikuti.
Media sosial mempercepat dan menguatkan pergeseran tersebut. Lini masa menjadi etalase akhir tahun: foto bandara, potret senja di objek wisata, potongan refleksi diri, hingga dokumentasi pesta penutup tahun.
Semua tersaji rapi, estetik, dan seolah selesai. Di baliknya, ada standar tak kasatmata tentang bagaimana akhir tahun seharusnya dijalani.



















