Saatnya Lirik Obligasi dan Sukuk di Tengah Kebisingan Pasar Saham

Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/3/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz/am.

Eyfrel Likuajang, Head of Digital Business Bahana Sekuritas, menyampaikan bahwa fitur ini menjawab kesulitan yang selama ini dihadapi investor dalam mengakses pasar sekunder.

Dengan aplikasi Bahana DXtrade, jual beli obligasi dan sukuk kini benar-benar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Penting untuk dicatat bahwa terobosan ini juga punya dimensi inklusi keuangan yang kuat. Di Indonesia, tingkat inklusi keuangan memang terus meningkat, tetapi masih terdapat kesenjangan signifikan dalam akses dan pemahaman terhadap instrumen keuangan non-bank seperti pasar modal.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Presiden Prabowo Segera Bentuk Komisi Reformasi Polri

Banyak masyarakat yang masih berpikir bahwa obligasi adalah produk eksklusif untuk kalangan investor besar, padahal kenyataannya saat ini sudah tersedia obligasi ritel dengan nominal yang terjangkau.

Digitalisasi adalah kunci untuk membuka akses yang selama ini tertutup oleh batasan geografis, birokrasi, dan persepsi yang keliru.

Melalui fitur ini, Bahana juga memperlihatkan bagaimana lembaga keuangan bisa bertransformasi menjadi institusi yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga mendidik publik.

Dengan menyederhanakan proses, memperkuat antarmuka digital, dan memberikan informasi yang jelas, mereka berkontribusi dalam mendorong literasi keuangan secara substansial.

BACA JUGA  Enam Poin yang Bikin Iran Sulit Dihancurkan oleh Militer Negara Lain

Peluncuran fitur Primary Bonds Trading pada akhir 2024 juga telah menjadi fondasi penting sebelum fitur pasar sekunder ini hadir sebagai pelengkap.


Alat investasi

Satu hal yang menarik dari perkembangan ini adalah bagaimana teknologi digital bisa mengembalikan fungsi obligasi sebagai alat investasi yang mudah, aman, dan fleksibel.

Pos terkait