MATASEMARANG.COM – Sebagai negara maritim dengan panjang garis pantai lebih dari 99 ribu kilometer, Indonesia setiap tahun masih harus mengimpor jutaan ton garam. Panjang garis pantai Indonesia menempati posisi kedua di dunia setelah Kanada.
Budi daya garam yang sebagian besar masih dilakukan secara tradisional dan curah hujan tinggi merupakan kendala utama untuk mendongkrak produksi garam.
Pada tahun ini, produksi garam diperkirakan merosot 50 persen dibanding tahun 2024.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprediksi produksi garam nasional pada 2026 masih akan bertahan di kisaran 1 juta ton.
Perkiraan ini didasarkan pada kondisi cuaca yang diprediksi tidak jauh berbeda dengan tahun 2025.
“Kurang lebih sama perkiraannya karena suasananya juga mirip-mirip. Tahun 2026 juga diprediksi hujan,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara saat ditemui di Jakarta, Selasa.
KKP mencatat produksi garam nasional, baik dari tambak rakyat maupun pelaku usaha, pada 2025 hanya sekitar 1 juta ton.
Angka ini turun hingga 50 persen dibandingkan 2024 akibat tingginya intensitas hujan yang menghambat proses pembentukan garam.
Untuk meningkatkan kualitas, KKP menjalankan program sertifikasi cara produksi garam bahan baku agar sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sertifikasi dilakukan melalui bimbingan teknis dan pelatihan bagi petambak.
“SNI masih dilakukan, karena produksinya harus terstandardisasi. Dari tahun kemarin-kemarin juga sudah ada yang disertifikasi setelah dilatih,” kata Koswara.


















