“Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,” ujarnya.
Selain faktor kebiasaan, aspek teknis seperti kondisi kompor juga menjadi perhatian, menurut Chef Gun banyak rumah tangga yang tidak menyadari bahwa kompor yang kotor atau tidak terawat dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna.
Utamanya bagian tungku pembakaran atau burner yang menjadi sumber penyimpan kotoran berasal dari tumpahan kuah masakan, minyak atau air jika dibiarkan dan tidak dibersihkan akan menghambat aliran gas, sehingga penggunaan gas cenderung boros.
“Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman dasar dalam memasak, termasuk penggunaan api dan alat masak. Menurutnya, masih banyak anggapan keliru bahwa api besar akan mempercepat proses memasak.
“Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,” tegasnya.
Melalui efisiensi energi di dapur, kata dia, diharapkan bisa memberikan dampak sangat besar jika dilakukan secara kolektif oleh jutaan rumah tangga di Indonesia.
“Kalau kita bicara ketahanan energi, jangan selalu melihat ke hulu. Hilirnya, yaitu rumah tangga, juga harus diperkuat. Edukasi seperti ini harus terus digaungkan,” tambahnya.





















