“Tenaga kita sudah di ujung. Tapi kita istirahat sebentar, lalu jalan lagi,” kata Shammie.
Proses itu memakan waktu lebih dari tiga jam, mendekati batas maksimal etape, namun Dakar tidak berhenti menunggu. Etape berikutnya tetap harus dijalani pada hari yang sama, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah terkuras.
Di tengah kondisi seperti itu, Etape 11 menjadi oase. Etape berformat regularity tersebut menuntut konsistensi mutlak dan pengambilan keputusan yang presisi. Lintasannya relatif datar, minim handicap, dan memberi ruang bagi pembalap yang mampu menjaga ritme.
“Datangnya, perginya, sudutnya, keluarannya, ngeremnya—semua harus konstan,” ujar Shammie.
Di tengah etape, Ignas menyebut peluang kemenangan berdasarkan data navigasi. Shammie sempat meragukannya. Kepastian baru datang saat tiba di bivouac dan melihat sambutan para peserta lain yang sudah menunggu. Etape itu berakhir dengan kemenangan.
Bagi Jeje, Dakar juga menjadi pelajaran tentang batas diri dan strategi.
Dengan mobil non-turbo dan tenaga yang pas-pasan, pendekatan setengah-setengah tidak memungkinkan. Ia memilih opsi mobil dan tim yang memungkinkan fokus penuh pada balapan, tanpa harus membangun kendaraan dari nol.
Jeje dan Shammie sama-sama tergabung dalam tim asal Prancis, Compagnie Saharienne, yang menyediakan paket mobil siap balapan lengkap dengan teknisi. Biayanya sekitar Rp3 miliar untuk menyewa mobil itu dan berbagai keperluannya. Risiko diambil sejak awal, dengan pemahaman bahwa Dakar tidak memberi banyak ruang untuk bermain aman.


















