Jumlah santri dari tiga angkatan saat ini mencapai 41 orang. Jumlah tersebut relatif terbatas karena seleksi ketat, antara lain berjenis kelamin laki-laki, lulusan SLTA, dan berusia maksimal 24 tahun. Dalam proses rekrutmen, justru banyak pendaftar perempuan dan lulusan SLTP yang tidak memenuhi kriteria.
Tantangan Keberlanjutan
Meski menunjukkan progres pesat, keberlanjutan pesantren ke depan memerlukan langkah strategis, sistematis, dan terprogram. Tantangan utama adalah menjaga skema pendanaan dan kerja sama lintas lembaga di tengah potensi meningkatnya jumlah peminat.
Pertanyaan krusial yang perlu diantisipasi antara lain apakah pola fasilitasi penuh akan tetap dipertahankan jika jumlah santri meningkat signifikan, serta apakah skema beasiswa total dari Baznas Provinsi Jawa Tengah dan Unwahas akan berlanjut. Keberlangsungan kerja sama juga diuji oleh dinamika pergantian kepemimpinan di masing-masing institusi.
Penulis berharap sistem kemitraan antara MAJT, Baznas Provinsi Jawa Tengah, dan Baznas kabupaten/kota se-Jawa Tengah tetap terjaga. Siapa pun pemimpin di masa mendatang diharapkan memahami urgensi strategis kerja sama yang telah dirintis sejak 20 Februari 2023 ini dalam mencetak hafidz Al-Qur’an yang mutqin, berintelektual kuat, dan berdaya guna bagi umat.
Semoga Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas Jawa Tengah terus lestari dan memberi manfaat luas. Aamiin. ***
*Penulis:
–Alumnus Magister Ilmu Politik FISIP Unwahas
-Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas Jawa Tengah
-Ketua Humas Masjid Agung Jawa Tengah





















