Saat ini, lanjut Arya, DPRD juga sedang menyoroti efektivitas penggunaan APBD untuk program vasektomi. Pelaksanaan vasektomi mengalami peningkatan hingga sekitar 70 persen pada tahun ini. Meski demikian, dewan ingin memastikan penyerapan anggaran dan pelaksanaan program ini bisa tepat sasaran.
“Kami akan meminta penjelasan dari Disdalduk KB terkait evaluasi penyerapan anggaran dan bagaimana pelaksanaannya di lapangan. Semua harus efektif dan efisien,” terangnya.
Arya menekankan program vasektomi harus di berikan kepada masyarakat yang benar-benar memenuhi syarat. Misalnya sudah memiliki minimal dua anak atau tidak lagi berada pada usia produktif.
Dia mengingatkan agar tidak ada tebang pilih dalam pemberian program, sehingga program ini bisa merata dengan memperhatikan kebutuhan penerima.
“Jangan sampai ada yang masih usia produktif tapi di minta ikut vasektomi hanya karena ada bonus. Syarat dan kriterianya harus jelas,” tegasnya.
Menurut Arya, sosialisasi mengenai vasektomi harus terus di perkuat. Meski Disdalduk KB bersama kecamatan dan kelurahan telah melakukan penyuluhan, pemahaman masyarakat, terutama kelompok laki-laki, masih belum merata.
“Banyak bapak-bapak hanya tahu soal insentifnya saja, tapi belum memahami syarat, manfaat, maupun konsekuensi vasektomi. Jadi sebelum pelaksanaan, edukasi harus berjalan lebih intensif,” jelasnya.
Ia berharap program vasektomi dapat terus berjalan dengan baik, namun tetap mengedepankan ketepatan sasaran. Dengan sosialisasi yang kuat, program ini diharapkan mampu membantu mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Semarang.


















