Wakil Menteri Komdigi Soroti Bias Budaya di Platform AI

MATASEMARANG.COM – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menyoroti terjadinya bias budaya di platform-platform kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dikembangkan oleh para ahli di luar negeri.

Dia memberikan gambaran, platform kecerdasan buatan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang banyak digunakan oleh warga Indonesia dilatih menggunakan data dari negara pembuatnya, sehingga kadang tidak menghasilkan keluaran yang sesuai dengan konteks Indonesia.

“AI memiliki preferensi, cultural values (nilai budaya), yang dibawa dari lingkungannya, sehingga LLM yang dibentuk adalah refleksi dari pengetahuan yang relevan dengan budayanya, ketika mereka dipakai di tempat lain, ya enggak nyambung, banyak biasnya,” kata dia di Jakarta pada Senin.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Upah Minimum 2026 Paling Lambat Ditetapkan 24 Desember

Nezar, mantan wartawan itu, menyampaikan pentingnya pada ahli di Indonesia mengembangkan platform kecerdasan buatan berdasarkan nilai-nilai dan budaya bangsa untuk mewujudkan kedaulatan dalam bidang teknologi.

“Untuk mencapai sovereign (kedaulatan) AI dibutuhkan landasan nilai, norma dasar, contohnya kita punya Pancasila, saya kira ini menarik sekali untuk dikembangkan lebih lanjut,” katanya.

Nezar berharap para akademisi dan peneliti di dalam negeri mengembangkan riset-riset tentang AI yang dapat mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung tata kelola AI dan transformasi digital yang berkeadilan.

BACA JUGA  Kaesang Sebut Inisial J sebagai Ketua Pembina PSI, Jokowi?

Nezar menyampaikan bahwa para pelaku industri AI saat ini berlomba-lomba untuk membuat platform AI paling canggih dan bisa melakukan apa saja yang diperintahkan.

Pos terkait