Wamen Komdigi: Indonesia Butuh AI Lokal Berbasis Pancasila

ilustrasi AI (pixabay/ Alexandra_Koch)
ilustrasi AI (pixabay/ Alexandra_Koch)

MATASEMARANG.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) terus melaju pesat, terutama di bidang large language model (LLM) yang kini banyak dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan, membuat karya audio-visual, hingga menyelesaikan berbagai masalah sehari-hari.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut para pelaku industri AI saat ini berlomba menciptakan platform yang semakin canggih dan bisa melakukan apa saja sesuai perintah pengguna.

Namun, menurutnya, AI juga dibutuhkan untuk hal-hal yang lebih spesifik. Karena itu, small language model (SLM) menjadi peluang besar bagi akademisi dan pengembang untuk menghadirkan AI yang lebih fokus.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Kebakaran Hebat di KM Barcelona 5, Puluhan Penumpang Terjun ke Laut

“SLM berbeda dengan LLM, karena SLM dilatih dengan data-data spesifik dan lebih akurat dalam menjawab pertanyaan di bidang tersebut,” ujar Nezar dalam Kagama-UGM Policy Dialogue 2025 di Universitas Gadjah Mada, Sabtu 13 Desember 2025.

Nezar mencontohkan, jika ada platform SLM yang dilatih khusus dengan data kebijakan publik, maka pengguna akan lebih mudah mendapatkan jawaban yang relevan tanpa harus repot menyusun prompt yang rumit.

Ia juga menyoroti bahwa banyak platform LLM yang digunakan masyarakat Indonesia masih membawa data latih dari negara asal pembuatnya.

BACA JUGA  Mobil MBG Tabrak Siswa, Gibran: Usut Tuntas Segera

Akibatnya, hasil yang keluar sering tidak sesuai dengan konteks Indonesia.

“AI punya preferensi, cultural values dari lingkungannya. Jadi LLM yang dibentuk adalah refleksi pengetahuan sesuai budaya asalnya. Ketika dipakai di tempat lain, sering tidak nyambung dan bias,” jelasnya.

Pos terkait