Jangan Pernah Menunda Belajar AI dan Koding

Itulah sebabnya AI dan koding harus dipandang sebagai literasi abad ke-21. Jika dulu membaca, menulis, dan berhitung menjadi fondasi, maka kini literasi digital, data, AI, dan koding tidak kalah pentingnya.

Tujuannya bukan mencetak semua anak menjadi programmer, melainkan menanamkan pola pikir komputasional, logika analitis, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian untuk berinovasi.

Keberatan yang paling sering muncul tentu soal kesiapan guru. Banyak yang beranggapan AI dan koding cukup diajarkan di fakultas teknik. Namun pengalaman global menunjukkan hal sebaliknya. Inovasi besar AI justru lahir dari berbagai bidang nonteknis.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pelaku Industri Kreatif Harus Melek Teknologi

Dokter yang paham AI mampu mendiagnosis pasien lebih cepat. Ekonom bisa membaca pola pasar dengan lebih tajam. Jurnalis menggunakan AI untuk melakukan fact-checking berbasis data.

Seniman bahkan menciptakan karya-karya baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Mengurung AI hanya di ruang teknik sama artinya dengan menutup pintu peluang besar di berbagai profesi.

Mengapa harus dimulai sejak SD dan SMP? Pertama, karena usia itu adalah golden age of learning. Anak-anak punya kemampuan adaptasi luar biasa, termasuk terhadap bahasa teknologi.

BACA JUGA  Harga RAM Serampangan, AI Bikin Manusia Jadi Figuran Teknologi

Kedua, pada usia dini kreativitas tumbuh lebih cepat, dan AI melatih mereka untuk berani mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Ketiga, ini menyangkut persiapan menuju Indonesia Emas 2045.

Anak-anak SD hari ini akan berusia tiga puluhan ketika negeri ini genap 100 tahun. Jika sejak dini mereka sudah melek AI, mereka bisa menjadi pencipta teknologi yang diakui dunia.

Pos terkait